<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lukasbujangipl's Blog</title>
	<atom:link href="http://lukasbujangipl.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Feb 2011 03:56:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lukasbujangipl.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lukasbujangipl's Blog</title>
		<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lukasbujangipl.wordpress.com/osd.xml" title="Lukasbujangipl&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lukasbujangipl.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Untuk direnungkan: Facebook (fb) versus  Keintiman Sosial</title>
		<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/21/untuk-direnungkan-facebook-fb-versus-keintiman-sosial/</link>
		<comments>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/21/untuk-direnungkan-facebook-fb-versus-keintiman-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2009 07:53:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukasbujangipl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/21/untuk-direnungkan-facebook-fb-versus-keintiman-sosial/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lukas Bujang IPL¹ Mukadimah: Manusia terlahir dengan insting ingin melakukan interaksi dengan manusia lain (gregouriosness) maka setiap bayi yang dilahirkan tidak langsung tumbuh besar dengan sendirinya, tetapi terdapat proses hubungan intim antara si bayi dengan ibunya. Tanpa orang lain si bayi tidak akan bertahan hidup di dunia ini. Ini merupakan hukum alam yang tiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=12&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Lukas Bujang IPL¹</p>
<p>Mukadimah:<br />
Manusia terlahir dengan insting ingin melakukan interaksi dengan manusia lain (gregouriosness) maka setiap bayi yang dilahirkan tidak langsung tumbuh besar dengan sendirinya, tetapi terdapat proses hubungan intim antara si bayi dengan ibunya. Tanpa orang lain si bayi tidak akan bertahan hidup di dunia ini. Ini merupakan hukum alam yang tiap manusia tidak bisa menyangkalinya. Dalam melakukan interaksi tersebut, manusia dikaruniai Tuhan berbagai alat indera: penglihat, pendengar, pencecap, perasa, dan pembau. Alat indera ini mempunyai fungsi untuk membahasakan respon yang muncul dari individu di luar dirinya, alat ini juga digunakan untuk berinteraksi secara intim dengan individu lainnya: berbicara, mendengarkan, dan merasakan. Keintiman social yang seyogyanya dibangun melalui dasar-dasar interaksi yang kuat, sekarang semakin hari semakin terkikis oleh munculnya berbagai alat-alat teknologi yang serba canggih. Yang tanpa disadari memunculkan masalah-masalah social baru terkait dengan konsep diatas.<br />
Teknologi maju menjadi latar belakang timbulnya masalah-masalah social secara luas. Tetapi dalam opini ini penulis hanya ingin memberikan stimulus kepada para pembaca untuk memberikan tindak lanjut terhadap permasalahan social yang terjadi khususnya tentang dunia komunikasi dan informasi. Internet, dalam bahasa John Denver sebagai blue nowhere atau dunia maya. Software jejaring social seperti friendster, facebook, yahoo messenger, dll. Dalam opini ini penulis ingin membatasi pada masalah yang actual (booming) yang menjadi trend dan ukuran pergaulan pada masyarakat yang tidak ingin dikatakan kampungan, jadul, dan gaptek.</p>
<p>Facebook versus Keintiman Sosial<br />
Menurut Rocky Gerung, Dosen Filsafat Universitas Indonesia menyatakan bahwa evolusi tubuh manusia dirancang untuk bertemu secara fisik dan psikis. Dari kedua hal itu manusia diarahkan untuk masuk dalam situasi konflik, ada perasaan senang, cinta, marah, benci. Dan melalui proses tersebut manusia bisa bertahan hidup. Respon-respon yang ditangkap seperti diatas memberikan pemaknaan tersendiri tentang suatu persepsi tertentu, sehingga proses pembatinan persepsi yang diberikan oleh individu di luar dirinya mampu menyumbangkan nilai-nilai kehidupan (school of life) yang menjadi bekal dalam mengarungi tantangan, ancaman yang siap menerjang individu tersebut.<br />
Pertarungan antara facebook (fb) dengan keintiman social sangat menarik untuk dibahas bersama-sama dalam konteks social. Latar belakang di alinea pertama pada bab ini, secara eksplisit tertuang tentang pentingnya hubungan interaksional antar individu. Bila kita ingin melihat kebelakang lagi bahwa fb pada awalnya digawangi oleh Mark Zukerberg dan kawan-kawannya pada februari 2004, fb ini di buat dari dormitorinya di Harvard University, pada awalnya mereka membuat suatu jejaring mahasiswa melalui internet. Dalam kurun waktu 24 jam, 1.200 mahasiswa Harvard tergabung dan menyebar ke kampus-kampus lainnya, kemudian selama waktu berjalan fb tersebut terus dikembangkan sampai saat ini.<br />
Banyak para akademisi sosial menyoroti keberadaan fb ini sebagai dua buah mata pisau. Di satu sisi mempunyai kelebihan-kelebihan yang memudahkan seseorang untuk menemukan teman-teman lamanya ataupun sebagai ajang promosi berbagai produk bahkan promosi untuk pencarian jodoh. Tetapi di lain pihak (secara social) juga mengakibatkan eklusivitas personal yang egoistik dan asosial. F. Budi Hardiman seorang akademisi Filsafat Politik Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta mengemukakan bahwa fb mempunyai sisi negatif dan positif. Positifnya yaitu fb bisa menjadi sarana pembentukan identitas, yang mana dalam kehidupan sehari-hari atau kehidupan nyata tidak bisa diekspresikan secara baik sesuai keinginannya, menjadi berarti di tengah dunia metropolis. Sedangkan sisi negatifnya yaitu bahwa orang yang tidak bijak dalam menggunakan fb akan terkurung dalam narsisme individual dan terisolasi dari dunia nyata. Relasi sosial fb menurut Idi Subandy hanyalah ilusi (illusion of intimacy) fb telah mementingkan kualitas daripada kualitas hubungan sosial. Secara kualitas personal, individu yang banyak melakukan interaksi social secara intim maka terbangun suatu pribadi yang hangat, positif thinking, proaktif dan ramah. Secara mental, akan terbentuk mental yang terbuka, optimistik, dan sehat.<br />
Ancaman serius ketidakbijaksanaan dalam menggunakan fb ataupun jejaring social lainnya, yang sangat ditakutkan oleh penulis adalah munculnya sifat asosial, introvert, utopis, instanisasi dan pendangkalan nilai hidup. Walaupun tidak kita prejudice bahwa menggunakan fb tidak benar dan sebagainya. Tetapi lebih kita pahami sebagai salah satu fakta sosial yang masih membutuhkan fakta sosial lainnya sebagai dasar untuk menerangkan dan menjelaskan akibat-akibat selanjutnya. Ini hanyalah sebuah asumsi, yang sangat terbuka  untuk dilakukan telaah dan pembuktian lanjutan. Hal yang terpenting bukanlah mengadakan rasionalisasi tentang pembenaran penggunaan fb atau sejenisnya tetapi bagaimana seharusnya kita (baca: kaum muda) menyikapi fenomena ini dengan pendekatan metodis ala anak muda.</p>
<p>Apa yang ingin kita tawarkan?<br />
Menurut hemat penulis, tindakan preventif untuk menanggulangi akibat-akibat masalah diatas adalah dengan kembali pada pemenuhan kualitas hubungan social. Menjalin keintiman relasi antar individu secara langsung menjadi sangat efektif dan efisien. Kegiatan-kegiatan UKM, diskusi-diskusi kelompok baik studi maupun keagamaan menjadi sarana yang harus dikembangkan secara optimal (bukan maksimal) untuk mengantisipasi dampak-dampak negatif dari fb dan internet pada umumnya. Komunikasi, sharing, tukar pikiran secara langsung juga dapat mengembangkan aspek kognisi, afeksi, dan konasi secara baik. Oleh karena itu sangatlah merugi jika kita tidak memanfaatkan waktu kita sebaik mungkin, mulailah dari diri sendiri. 20/04/09<br />
Comment sent to:<br />
Blog: http://lukasbujangipl.wordpress.com<br />
email: lovel_06@hotmail.com<br />
           lukasbujangipl@yahoo.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lukasbujangipl.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lukasbujangipl.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=12&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/21/untuk-direnungkan-facebook-fb-versus-keintiman-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/add4be76e38954a6f15eea214e31e9b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lukasbujangipl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Krisis Finansial Global: Ancaman PHK  dan  Peran PEKSOS Dalam Menangani Masalah Sosial yang Ditimbulkan</title>
		<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/06/krisis-finansial-global-ancaman-phk-dan-peran-peksos-dalam-menangani-masalah-sosial-yang-ditimbulkan/</link>
		<comments>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/06/krisis-finansial-global-ancaman-phk-dan-peran-peksos-dalam-menangani-masalah-sosial-yang-ditimbulkan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2009 04:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukasbujangipl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/06/krisis-finansial-global-ancaman-phk-dan-peran-peksos-dalam-menangani-masalah-sosial-yang-ditimbulkan/</guid>
		<description><![CDATA[Sejalan dengan arus modernitas yang semakin merongrong berbagai aspek kehidupan manusia maka marginalitas karena kekuasan kapitalis dan individualitas msyarakat berkembang semakin terpuruk. Aspek financial atau sering dikatakan dengan ekonomitelah memberikan dampak yang negative di era post modernitas ini. Salah satu dampaknya yaitu resesi financial yang disponsori oleh Amerika Serikat sebagai Negara adidaya dan beberapa Negara-negara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=10&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejalan dengan arus modernitas yang semakin merongrong berbagai aspek kehidupan manusia  maka marginalitas karena kekuasan kapitalis dan individualitas msyarakat berkembang semakin terpuruk. Aspek financial atau sering dikatakan dengan ekonomitelah memberikan dampak yang negative di era post modernitas ini. Salah satu dampaknya yaitu resesi financial yang disponsori oleh Amerika Serikat sebagai Negara adidaya dan beberapa Negara-negara Eropa lainnya. Hal ini memberikan efek buruk bagi negara-negara berkembang, masyarakat yang sudah mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan semakin terpuruk dengan adanya krisis finansial global. Tidak terlepas Bangsa Indonesia jugamengalami keterpurukan ini, salah satu dampak yang kongkrit adalah meningkatnya harga kebutuhan pokok pangan, barang-barang factor produksi, dan juga harga pupukpun melambung tinggi sehingga para petani merasa kesulitan dalam meningkatkan produktifitas hasil pertanian mereka. Fenomena seperti ini sangat merugikan negara-negara dunia ketiga dan negara miskin lainnyayang tersebar diseluruh penjuru benua yang ada dibumi ini. Oleh karena itu peranan pekerja sosial dalam menangani masalah social yang ditimbulkan akan menjadi suatu kegiatan yang strategis untuk eksistensi dan keberlangsungan profesi pekerja social. Krisis financial global telah menjadi muara permasalahan besar dan kompleks, karena menjadi akar masalah dari berbagai masalah-masalah lainnya yang mengganggu keberfungsian social individu di dalam peran dan statusnya di masyarakat.</p>
<p>Sekilas: Krisis Finansial Global<br />
	Krisis finansial Global merupakan peristiwa di mana seluruh sektor ekonomi pasar dunia mengalami keruntuhan dan mempengaruhi sektor lainnya di seluruh dunia. Ini dapat kita lihat bahwa negara adidaya yang memegang kendali ekonomi pasar dunia yang mengalami keruntuhan besar dari sektor ekonominya. Bencana pasar keuangan akibat rontoknya perusahaan keuangan dan bank-bank besar di Amerika Serikat satu per satu, tinggal menunggu waktu saja. Bangkrutnya Lehman Brothers langsung mengguncang bursa saham di seluruh dunia. Bursa saham di kawasan Asia seperti di Jepang, Hongkong, China, Asutralia, Singapura, India, Taiwan dan Korea Selatan, mengalami penurunan drastis 7-10 persen. Termasuk bursa saham di kawasan Timur Tengah, Rusia, Eropa, Amerika Selatan dan Amerika Utara. Tak terkecuali di Amerika Serikat sendiri, Para investor di Bursa Wall Street mengalami kerugian besar.<br />
Krisis financial global sebenarnya dicikalbakali oleh gejolak perekonomian Amerika Serikat yang mengalami sub mortgage atau macetnya kredit-kredit perusahaan besar di Amerika khususnya corporate capitalism yang menguasai system ekonomi abad 21. Seperti perusahaan junkfood yang mengakomodir tren-tren budaya pop yang dihuni oleh kaum muda sebagai komunitas terbesar di dunia. Standard &amp; Poor mengumumkan bahwa harga saham pada perusahaan-perusahaan Amerika Serikat pada Maret 2000 menurun sekitar 40 persen, dalam waktu singkat situasi ini menjalar ke negara-negara Eropa dan Asia, dan inilah yang menjadi awal munculnya istilah krisis financial global walaupun dampak yang begitu kongkrit baru terasa pada pertengahan tahun 2007, tetapi sebenarnya sebelum tahun tersebut krisis financial sudah terjadi di mana-mana, terutama Indonesia pada masa akhir kekuasaan rezim Orde Baru pada tahun 1998-an. Dalam buku Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, Edi Suharto: 2005 menjelaskan tiga alasan utama mengapa globalisasi dapat membawa malapetaka bagi dunia yaitu yang pertama globalisasi didasari ideology free market fundamentalism  yang  taat pada mitos the invisible hand dan antipati terhadap peran Negara (Stiglits, 2003). Kedua, globalisasi memperkokoh hegemoni perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs/TNCs). Peran globalisasi sudah bersembunyi di balik neoliberalisme atau dalam pengertian pribadi sebagai post modernisasi,loberalisme yang dikembangkan tidak hanya pada industrialisasi tetapi pada komunikasi, informasi dan bioteknologi. Ketiga hal ini sudah menjadi perusahaan yang mampu mendulang pundi-pundi rupiah bahkan dollar Amerika, misalnya friendster, facebook, google search engine, mutation, cloning, dan lain sebagainya. Kemudian malapetaka yang ketiga adalah bahaya globalisasi tidak hanya disebabkan oleh saratnya muatan ideology neoliberalisme dan kepentingan kapitalis dunia. Tetapi lebih jauh disokong oleh tiga lembaga internasional penting yaitu Bank Dunia, International Monetary Fund (IMF) dan World Trade Organization (WTO) mampu menggenggam dunia lewatstrategi-strategi yang mereka kembangkan demi depedensi negara-negara dunia ketiga kepada ketiga ‘kaisar ekonomi’ dunia.<br />
Sejarah krisis financial pada dasarnya sudah sejak tahun 1907. Pada tahun itu krisis perbankan Internasional dimulai di New York, setelah beberapa decade sebelumnya yakni mulai tahun 1860-1921 terjadi peningkatan hebat jumlah bank di Amerika s/d 19 kali lipat. Selanjutnya, tahun 1920 terjadi depresi ekonomi di Jepang. Kemudian pada tahun 1922 – 1923 German mengalami krisis dengan hyper inflasi yang tinggi. Karena takut mata uang menurun nilainya, gaji dibayar sampai dua kali dalam sehari. Selanjutnya, pada tahun 1927 krisis keuangan melanda Jepang (37 Bank tutup); akibat krisis yang terjadi pada bank-bank Taiwan. Hal ini menandakan bahwa fluktuasi financial dunia mengalami kenaikan dan penurunan secara drastis, kemudia krisis financial terakhir ini timbul pada tahun 1998 yang terjadi krisis keuangan di Rusia; dengan jatuhnya nilai Rubel Rusia (akibat spekulasi) Selanjutnya krisis keuangan melanda Brazil di tahun 1998. pada saat yang hampir bersamaan krisis keuangan melanda Argentina di tahun 1999. Terakhir, pada tahun 2007 hingga saat ini, krisis keuangan melanda Amerika Serikat. Dari data dan fakta historis tersebut terlihat bahwa dunia tidak pernah sepi dari krisis yang sangat membayakan kehidupan ekonomi umat manusia di muka bumi ini.<br />
Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK ) dan Kemiskinan<br />
   	Akibat dari krisis financial global yang paling diakuti  adalah pemutusan hubungan kerja ( PHK ) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Hal ini dilakukan sebagai langkah rasionalisasi guna mempertahankan keberlangsungan perusahaan-perusahaan, statement ini diungkapkan oleh Sekretaris Eksekutif APHI (Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia) Komisariat Daerah (Komda) Kaltim, Saut Marisi Halomoan Purba<br />
Pemutusan hubungan kerja seperti yang diungkapkan oleh Berita Sore bahwa awal tahun 2009 pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia  sudah mencapai sekitar 31.000-an orang dan 20.000-an orang dirumahkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.<br />
	Menurut Koran Indonesia tanggal 12 Oktober 2008 bahwa Sekitar 500 ribu hingga 1 juta orang di Indonesia bakal terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga akhir 2009 akibat krisis global. Seperti yang dikatakan juga oleh Direktur Pengembangan Pasar Kerja Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) Reyna Usman Ahmadi, hingga minggu pertama Desember 2008 sudah terjadi PHK diatas atas 16 ribu orang lebih di 11 provinsi. Diperkirakan hingga akhir tahun 2008 akan membengkak menjadi 40 ribu lebih. Tidak hanya itu saja, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Suparno mengatakan berdasar laporan Tim Monitoring, Evaluasi, dan Mediasi Dampak Krisis Depnakertrans, sampai dengan November terjadi PHK sekitar 16.000 orang (sampai 28 November 2008 mencapai 16.988 orang). Pada periode yang sama, jumlah pekerja yang telah dirumahkan sudah mencapai angka 6.597 orang. Tim juga melaporkan bahwa akibat krisis global, diproyeksikan akan terjadi PHK terhadap 23.927 pekerja, serta diproyeksikan akan terjadi rencana pekerja yang dirumahkan yang diproyeksikan mencapai 19.091 pekerja.<br />
Fakta diatas hanyalah bagian kecil fenomena yang terjadi di Indonesia, ini juga dapat menjelaskan bahwa pemutusan hubungan kerja ( PHK ) telah menjadi hantu di siang bolong yang ditakuti oleh para pekerja/buruh yang bekerja di perusahaan. Akibat dari pemutusan hubungan kerja ( PHK ) menimbulkan dampak social, psikologis, dan ekonomi. Dampak social akhir-akhir ini yaitu meningkatnya jumlah kriminalitas baik pelanggaran maupun kejahatan, semakin hilangnya peran dan fungsi-fungsi social yang diakibatkan karena terpuruknya moralitas dan etika individu ( prostitusi, komersialisasi organ tubuh, trafficking, dan child abuse ). Dampak psikologis dari pemutusan hubungan kerja ( PHK ) yaitu antara lain burning out, stress, bahkan gangguan kejiwaan lainnya. Kemudian yang terkahir adalah dampak ekonomi, menurut catatan Halwani ( 1999 ) seperti yang dikutip oleh Gunawan dan Sugiyanto dalam makalahnya yang berjudul Kondisi Keluarga Fakir Miskin mengatakan bahwa sebagian besar ( 98,2%) adalah unit usaha kecil dan industri rumah tangga dengan tenaga kerja sebanyak 3.484.408 orang ( 63, 3% ). Industri yang tergolong dalam usaha berskala besar dan sedang (0,8% ) dengan tenaga yang terserap sebanyak 1.691.435 orang. (32, 7% ). Namun jika hasil nilai tambah dari kedua jenis kegiatan tersebut diperbandingkan, maka hasil yang diperoleh dari sector industri kecil masih jauh dari yang diharapkan yakni sebesar 17, 8% (Rp. 2,03 trilyun), sedangkann industri berskala besar (0,8%) telah memberikan nilai tambah Rp. 9,35 trilyun (82,2%). Dari data-data tersebut bisa dipahami bersama bahwa masyarakat Indonesia mempunyai tendensi untuk bekerja pada sector mikro tetapi tidak produktif, sehingga hal ini mempengaruhi masyarakat pedesaan untuk melakukan urbanisasi besar-besaran untuk dapat bekerja pada industri-industri besar, misalnya konveksi, assembling, pengolahan barang setengah jadi dan lain-lain. Fenomena ini memiliki arti bahwa kemiskinan adalah akibat terburuk yang tidak bisa diatasi secara personal tetapi oleh system bersama.  Kompleksitas masalah kemiskinan di Indonesia sebagai akibat krisis financial global mencakup kemiskinan structural, kemiskinan relative, dan kemiskinan absolute.<br />
	Menurut Ginanjar ( 1997 ) kemiskinan absolute adalah kondisi kemiskinan yang terburuk yang diukur dari tingkat kemampuan keluarga untuk membiayai kebutuhan yang paling minimal untuk dapat hidup sesuai dengan martabat hidup sesuai dengan martabat kemanusiaan. Menurut Nasikun  (1995), kondisi sesungguhnya harus dipahami mengenai kemiskinan yaitu bahwa kemiskinan adalah sebuah fenomena multifaset, multidimensional, dan terpadu. Hidup miskin tidak selalu diidentikkan dengan kondisi dimana kekurangan sandang, pangan ataupun pangan. Tetapi dilihat dari ketersediaan aksesbilitas yang rendah terhadap berbagai sumber daya dan aset produktif yang sangat diperlukan untuk dapat memperoleh sarana pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup yang paling mendasar, antara lain: informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan modal. Lebih dari itu, hidup dalam kemiskinan sering kali juga berarti hidup dalam alienasi, akses yang rendah terhadap kekuasaan, dan oleh karena itu pilihan-pilihan hidup yang sempit dan kondisi terpuruk terlebih di dalam kehidupan sekarang sebagai akibat dari krisis financial global.          </p>
<p>Apa yang harus dibuat oleh Pekerja Sosial?<br />
Pekerjaan sosial merupakan profesi yang bergelut tentang kemanusiaan, dan mempunyai metodologi tersendiri untuk melakukan pendekatan-pendekatan terhadap klien yang mengalami kedisfungsian social. Kontribusi yang bisa dilakukan oleh para pekerja social dalam menyikapi dan melakukan penanganan terhadap korban-korban pemutusan hubungan kerja (PHK) yang mengakibatkan kemiskinan terjadi dimana-mana yaitu dengan mempelajari lingkungan global, baik dari segi ekonomi, politik, kebudayaan. Pertahanan dan keamanan. Selain hal tersebut, kontribusi yang bisa dibuat oleh pekerja sosial sesuai dengan model peran pekerjaan social dalam penanganan masalah social global menurut Edi Suharto (2005) dalam bukunya Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat yaitu pekerja social mempunyai dua peran satu peran langsung, misalnya konselor, fasilitator, pemberdaya, pembela, broker dan mediator. Peran ini dapat berkiprah dalam konteks konsekuensi social globalisasi. Kemudian peran yang kedua adalah peran tidak langsung, misalnya aktivis dan analis kebijakan sosial, Peran ini dapat berkiprah pada aras internasional dan nasional. Menurut penulis secara prisnsipiil kontribusi kongkrit yang masih relevan dan efektif dalam menghadapi dampak buruk dari  krisis financial global yaitu kembali kepada fungsi awal pekerjaan social, yaitu pekerja sosial harus mampu memfungsikan peran social para korban krisis financial global tersebut. Antara lain sebagai berikut: pekerja social harus bisa menjadi konfrontator konstruktif, konselor, konsultan, advokasi, dan mediator antara pekerja dengan  para pemimpin perusahaan-perusahaan yang merasa takut akan ancaman krisis financial yang merongrong produktivitas perusahaan dan juga dengan para stakeholder/ pucuk-pucuk pimpinan negara yang membuat aturan kebijakan public, sehingga policy yang menjadi poduk pemerintah lebih mengutamakan kepentingan masyarakat kecil secara khusus dan negara-negara berkembang dan miskin secara globalnya.<br />
   	Pemahaman globalisasi perlu dikaji lebih lanjut oleh para pekerja social sehingga peran pekerja social semakin tampak sesuai dengan ilmu aplikatif yang diterimanya. Oleh karena itu pekerja social sekarang ini dituntut untuk bisa berpikir dan bertindak secara global pula, terutama mengenai ekses yang ditimbulkan oleh krisis ekonomi global. Menurut hemat penulis pekerja social harus mampu bersaing dalam kancah multinasional, dan dipahami sebagai respon tantangan yang harus dihadapi. Bertumpu pada buku The Seven Habits for Effective People karangan Sean Covey, manusia harus bisa proaktif terhadap permasalahan yang datang, berani menjemput bola sebagai tindakan preventif untuk mengatasi berbagai masalah yang timbul. Oleh karena itu pekerja social diharapkan lebih proaktif disertai dengan program-program strategis yang bisa digunakan sebagai titik respon kepedulian terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penanggulangan kemisikinan secara kolektif. Misalnya pekerja social mampu melakukan lobi kepada lembaga-lembaga Negara/swasta (nasional dan internasional), penyelenggaraan penelitian ilmiah, dan mengkonfontasi dengan pihak-pihak yang mensponsori krisis financial global, kemudian yang terkhir yaitu memperkuat organisasi –organisasi profesi internasional.  Seperti yang dilakukan oleh Greenpeace yang setiap gerakannya berdasarkan prinsip non-violence (tanpa kekerasan).<br />
	Akhirnya profesionalitas pekerja social semakin ditantang untuk bisa menanggulangi dan berperan aktif dalam menangkap gejala-gejala dan pengaruh negative dari krisis financial global. Peluang bagi pekerja social sangat terbuka lebar baik baik di dunia internasional atau nasional. Karena peran pkerja social masih sangat dibutuhkan bagi masyarakat yang ingin mengoptimalkan peran dan statusnya dalam komunitas-komunitas yang terbentuk. Dalam prakteknya pekerja social harus menjadikan masalah ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dengan baik dan menjadikan masalah tersebut sebagai alat strategis dalam rangka eksistensialisme profesi pekerjaan social, tentunya dengan sikap-sikap elegan, profesional, harmonis, metodologis, ramah, dan santun dengan didasari sebuah spirit perubahan dan Ketuhanan. Amin </p>
<p>SUMBER-SUMBER REFERENSI</p>
<p>Adam Kuper dan Jessica Kuper. 2000. Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.<br />
Adi, Isbandi Rukminto .2002.  Pemikiran-Pemikiran dalam Pembangunan Kesejahteraan Sosial. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.<br />
Suharto, Edi. 2005. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika   Aditama.<br />
Suharto, Edi. 2007. Pekerjaan Sosial Di Dunia Industri. Bandung: Refika Aditama.</p>
<p>http://www.policy.hu/suharto</p>
<p>http://cetak.kompas.com/</p>
<p>http://beritasore.com</p>
<p>http://www.koranindonesia.com</p>
<p>http://www.opensubscriber.com/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lukasbujangipl.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lukasbujangipl.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=10&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/04/06/krisis-finansial-global-ancaman-phk-dan-peran-peksos-dalam-menangani-masalah-sosial-yang-ditimbulkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/add4be76e38954a6f15eea214e31e9b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lukasbujangipl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/11/4/</link>
		<comments>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/11/4/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 07:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukasbujangipl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/11/4/</guid>
		<description><![CDATA[Carpe diem, quam minimum credula postero : Raihlah hari ini , jangan terlalu percaya pada hari esok. (Quintus Horatius Flaccus) Kalau Anda berkenan untuk sejenak berhenti dari kesibukan membuat tugas kuliah atau diskusi tentang mata kuliah, baik kalau kita menjadi nabi kecil-kecilan untuk mengamati kecenderungan perilaku kaum muda dewasa ini yang tentunya menarik untuk dipikirkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=4&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Carpe diem, quam minimum credula postero : Raihlah hari ini , jangan terlalu percaya pada hari esok.<br />
(Quintus Horatius Flaccus)</p>
<p>	Kalau Anda berkenan  untuk sejenak berhenti dari kesibukan membuat tugas kuliah atau diskusi tentang mata kuliah, baik kalau kita menjadi nabi kecil-kecilan untuk mengamati kecenderungan perilaku kaum muda dewasa ini yang tentunya menarik untuk dipikirkan bersama.<br />
	Semakin pesatnya tren kapitalisme dan konglomerasi elite tertentu maka pertumbuhan  kwantitatif tempat-tempat hiburan dan pusat-pusat perbelanjaan semakin berkembang bak  jamur dimusim hujan. Fenomena tersebut secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi budaya dan pola hidup kaum muda sekarang. Pergeseran budaya mulai menjangkiti kaum muda tanpa kompromi dan eksodus besar-besaran tentang paradigma berpikir kaum muda, dari budaya timur menuju budaya barat. Anda dapat melihat kaum muda hedonis bersliweran dengan  berbagai mode rambut dengan busana thank top atau junkies, dan alat-alat digital lainnya. Iklim masyarakat sekarang jauh berbeda dengan masyarakat tempo dulu. Namun, bila gejala ini kita telaah lebih lanjut bahwa kaum muda telah jatuh kedalam euforia budaya pop. Selanjutnya kaum muda yang seharusnya menjadi homo significans malahan jatuh kedalam pendangkalan nilai hidup.<br />
	Tulisan ini hanya mengajak para pembaca untuk merenungi dampak globalisasi tanpa harus terjerat ke dalam arus pendangkalan hidup post-modernisasi dan bagaimana hal tersebut tidak menggerogoti nilai-nilai positif yang menjadi warisan budaya kita.</p>
<p>Euforia Budaya Pop: Buah Globalisasi<br />
	Manusia harus berubah. Itulah hal yang mendasar yang perlu dipikirkan secara bersama. Memang benar bahwasannya manusia dengan segala budaya dan akal budinya harus dikembangkan seoptimal mungkin, karena akan semakin mengkokohkan kedudukannya dimuka bumi sebagai God Creature yang sempurna dibandingkan dengan ciptaan lainnya.<br />
	Kali ini, manusia beralih menuju rentang waktu yang kontradiksional dengan fase-fase sebelumnya, yaitu fase globalisasi. Di satu sisi manusia memang dituntut untuk berkembang menuju kearah yang lebih modern, baik aspek teknologi, hukum, sosial/kesejahteraan sosial, politik, demokrasi, dan semua sistem lainnya harus disempurnakan. Teknologi bidang informatika, kedokteran, bioteknologi, dan  transportasi mengalami perkembangan yang begitu dahsyat mengatasi batas-batas ruang dan waktu.<br />
	Namun, tidak boleh dilupakan bahwa hasil perkembangan manusia bersifat relatif dan ambivalen. Pengaruh negatif dari globalisasi adalah euforia budaya pop, perdagangan bebas, marginalisasi kaum lemah, dan timbulnya gap relation antaara si kaya dan si miskin. Hasil tersebut telah membentuk suatu budaya baru bagi masyarakat, khususnya kaum muda menjadi manusia yang terjebak dalam arus budaya pop.</p>
<p>Penghayatan Hidup yang Semakin Mendangkal<br />
	Ilustrasi di awal tulisan ini hanyalah sekelumit deskrispsi yang membuktikan eksistensi kecenderungan dalam diri manusia modern. Masih banyak contoh-contoh lain sebagai hasil dari globalisasi. Kaum muda dewasa ini lebih suka membaca komik atau main game daripada harus membaca buku-buku bermutu. Bacaan dengan analisis mendalam dan novel-novel bermutu hanya menjadi bagian kecil dari skala prioritas mereka, bahan-bahan bacaan seperti itu hanya tersentuh jika terpaksa atau karena tuntutan akademis.<br />
	Anda dapat mengelak bahwa gejala-gejala ini merupakan bentuk adaptif dari kemajuan zaman. Tapi, itu adalah rasionalisasi. Sebenarnya, kecenderungan manusia sekarang bukan hanya sekedar masalah mengikuti perkembangan zaman melainkan hal ini adalah masalah gengsi dan penghayatan hidup.<br />
	Bukti yang paling mengena adalah televisi, berbagai acara televisi semakin hari semakin jauh dari idealisme jurnalistik, bahkan semakin melegalkan budaya kekerasan, instanisasi, dan bentuk-bentuk kriminalitas. Sebagian tayangan-tayangan tersebut hanya semakin mendangkalkan sifat afektif manusia. Tayangan mengenai bencana alam, kemiskinan, perang, kelaparan, penemuan teknologi, pembelajaran budaya, dan lain sebagainya telah membuat sisi afeksi manusia tidak peka terhadap hal tersebut. Tidak ada proses batin dan intelektual lebih lanjut. Penghayatan nilai-nilai luhur semakin tereduksi.<br />
	Eksistensi kaum muda hanya ditempatkan pada pengakuan-pengakuan sementara, misalnya dianggap eksistensinya ada jika masuk menjadi anggota geng motor, menggunakan baju-baju bermerk, menggunakan blueberry, dugem, clubbing, melakukan freesex, ngedrugs,dan lain sebagainya. Eksistensi kaum muda hanya dihargai sebatas kepemilikan dan status semata. Jika pendangkalan ini terus dipelihara dan dibudidayakan, makna dan penghargaan terhadap insan manusia semakin jauh. Hasilnya adalah menghilangnya penghargaan terhadap manusia lainnya, misalnya: perang, pemerkosaan, komersialisasi organ tubuh, trafficking, tawuran, dll. Contoh-contoh ini menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan. </p>
<p>Solusi: Internalisasi<br />
	Seperti diungkapkan sebelumnya bahwa manusia sebagai homo significans, pada hakikatnya menjadikan manusia sebagai manusia pemberi makna. Jurus paling ampuh untuk mengatasi pendangkalan hidup post-modernisasi adalah pengendapan atau internalisasi. Internalisasi merupakan proses memaknai kembali makna-makna hidup. Makna hidup yang tadinya dihargai secara dangkal, kali ini digali dan diselami.<br />
	Ada dua metode internalisasi yang ditawarkan, yaitu budaya refleksi dan keheningan. Keduanya saling komplementer dan tidak dapat dipisahkan jika hendak melawan arus budaya pop. Refleksi membutuhkan suasana hening. Keheningan jiwa dapat tercapai saat berefleksi. Secara etimologis, refleksi  berasal dari verbum compositum bahasa Latin re-flectere, artinya antara lain, memutar balik, memalingkan, mengembalikan, memantulkan, dan memikirkan. Kiranya, dua arti terakhir yang cocok untuk mendefinisikan refleksi dalam kerangka permenungan ini. Refleksi adalah usaha untuk melihat kembali sesuatu secara mendalam dengan menggunakan pikiran dan afeksi hingga dapat menemukan nilai yang mulia yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bekal hidup. 	Euforia budaya pop di masa globalisasi menawarkan begitu banyak hal yang hanya berakhir menjadi kesan-kesan tanpa satupun yang dapat dialami. Dengan budaya refleksi, kesan-kesan tersebut dapat diendapkan. Secara satu persatu pengalaman negatif maupun positif dapat dianalisis, dipertimbangkan, disimpulkan, dan akhirnya diendapkan dalam nurani. Proses inilah yang membuat kaum muda dapat menyadari baik dan buruknya suatu sikap. Dalam proses ini juga kaum muda diajak untuk menindaklanjuti berbagai pengalaman yang didapat, sehingga muncul nilai-nilai dari setiap kejadian yang dialami, dan tentunya nilai tersebut dapat menjadi bekal hidup selanjutnya.<br />
	Peran refleksi dalam kerangka ini juga sebagai nabi, untuk mengingatkan segala larangan ataupun perintah Tuhan yang diajarkan. Refleksi  berperan  menjadi fungsi kritis dalam diri kaum muda. Saat ia mengalami pendangkalan nilai-nilai hidup dalam bentuk pragmatisme, konformitas buta dan sebagainya. Refleksi menunjukkan kesalahannya, dan mengarahkan kepada yang benar.<br />
	Oleh karena itu kita sebagai kaum muda harus mampu merubah diri kita menjadi manusia yang bermakna bagi orang lain melalui sikap dan perilaku sehari-hari. Usaha ini hanya bisa tercapai melalui usaha pribadi bukan orang lain, ada pepatah mengatakan jangan mengubah orang lain sebelum bisa mengubah diri sendiri. Selamat berefleksi.</p>
<p>Ditulis oleh: Lukas Bujang IPL<br />
(anggota Social Research Group Bandung)  </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lukasbujangipl.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lukasbujangipl.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=4&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/11/4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/add4be76e38954a6f15eea214e31e9b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lukasbujangipl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/3/</link>
		<comments>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 04:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukasbujangipl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/3/</guid>
		<description><![CDATA[Masih kosong. Belum ada yang di publish. Mohon ditunggu. Terima kasih<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=3&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih kosong. Belum ada yang di publish. Mohon ditunggu. Terima kasih</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lukasbujangipl.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lukasbujangipl.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=3&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/add4be76e38954a6f15eea214e31e9b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lukasbujangipl</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/hello-world/</link>
		<comments>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 04:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lukasbujangipl</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=1&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lukasbujangipl.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lukasbujangipl.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lukasbujangipl.wordpress.com&amp;blog=6895147&amp;post=1&amp;subd=lukasbujangipl&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lukasbujangipl.wordpress.com/2009/03/10/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/add4be76e38954a6f15eea214e31e9b4?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">lukasbujangipl</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
